02 Desember 2008

HIV/AIDS: Waspada!

Penyakit AIDS memang menghebohkan. Selain karena obat yang bisa membuat penderitanya sembuh total belum ditemukan, laju penularannya sangat cepat.

Dulu mungkin kita masih berpikir bahwa AIDS itu hanya terjadi di 'luar' sana, hanya pada bule-bule itu. Itulah sebabnya, setiap ada satu atau dua kasus AIDS yang ditemukan, semua pada heboh. Koran, TV, selebritis, anggota DPR, depkes, dll, ramai memperbincangkannya.

Namun hari ini, Indonesia sudah punya 21.151 orang terinfeksi HIV dan 15.136 orang diantaranya sudah memasuki fase AIDS (Kominfo). Tapi jangan salah, angka tersebut masih lebih kecil dari angka sebenarnya. Kenapa? Karena banyak kasus yang tidak terdeteksi akibat perjalanan penyakit infeksi HIV yang sangat lambat. Jadi ibaratnya, angka di atas hanyalah puncak dari sebuah gunung es di lautan lepas (iceberg phenomenon).

Lantas kita bertanya, mengapa pertambahan jumlah penderita HIV begitu cepat? Tidak adakah langkah untuk menanggulanginya?

Infeksi HIV terjadi setidaknya melalui 3 hal. Pertama, hubungan seksual. Kedua, penggunaan jarum suntik secara bersama-sama. Ketiga, dari ibu ke anak yang dikandungnya. Dua yang pertama memegang peran penting dalam penyebaran HIV, dan keduanya berkaitan dengan perilaku.

Jadi, jawaban mengapa kasus HIV hari ini tinggi adalah karena ada yang salah dalam perilaku kita. Perilaku dalam memilih pasangan seksual dan perilaku menggunakan narkoba. Tengok saja, bergonta-ganti pasangan seksual, hubungan seksual usia dini, hubungan seksual pranikah, tidak lagi merupakan hal yang tabu. Tapi sudah menjadi kebiasaan yang dianggap biasa oleh sebagian khalayak.

Begitu pula dengan narkoba. Banyak remaja kita tertarik mencobanya. Padahal, sekali terjebak di dalamnya, sangat sulit untuk keluar. Celakanya, pengguna narkoba biasanya suka berganti-ganti jenis narkoba, ibaratnya, ingin merasakan semuanya, termasuk narkoba yang digunakan dengan cara menyuntikkannya ke pembuluh darah.

Mengubah perilaku merupakan perkara sulit. Butuh usaha keras dan waktu yang lama. Itulah sebabnya, kampanye penanggulangan HIV/AIDS yang dewasa ini sudah sampai tingkat RT/RW dan pelosok-pelosok kampung hanya dapat menahan laju penularan, tapi tidak menghentikannya.

Selain itu, mengharapkan kesadaran semua orang untuk tidak menjadi mata rantai penularan HIV juga sangat sulit. Pasalnya, sebagian HIV ditularkan pada saat seseorang tidak sadar.

Jadi, mesti bagaimana?

2 komentar:

savic ali mengatakan...

assalamu'alaikum Wr.Wb

Bapak Paisal yth
saya kirim lagi tulisan yg saya ambil dari majalah suara hidayahtullah. semoga menjadi cermin dan pembelajaran bagi kita semuanya. selamat membaca. terima kasih.

BKKBN: 63 Persen Remaja Berhubungan Seks di Luar Nikah
Saturday, 20 December 2008 08:24

Survey terakhir, 63 persen remaja di Indonesia usia sekolah SMP dan SMA sudah melakukan hubungan seksual di luar nikah



Hidayatullah.com--Menurut hasil survey yang dilakukan salah satu lembaga, 63 persen remaja di Indonesia usia sekolah SMP dan SMA sudah melakukan hubungan seksual di luar nikah dan 21 persen di antaranya melakukan aborsi.

"Hasil survai terakhir suatu lembaga survey yang dilakukan di 33 provinsi tahun 2008, sebanyak 63 persen remaja mengaku sudah mengalami hubungan seks sebelum nikah," kata Direktur Remaja dan Perlindungan Hak-Hak Reproduksi Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional Pusat (BKKBN) M Masri Muadz, saat Peluncuran SMS Konsultasi Kesehatan Reproduksi Remaja di Serang, Jumat (19/12).

Ia mengatakan, persentasi remaja yang melakukan hubungan seksual pra nikah tersebut mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Berdasar data penelitian pada 2005-2006 di kota-kota besar mulai Jabotabek, Medan, Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Makassar, masih berkisar 47,54 persen remaja mengaku melakukan hubungan seks sebelum nikah. Namun, hasil survey terakhir tahun 2008 meningkat menjadi 63 persen.

"Perilaku seks bebas remaja saat ini sudah cukup parah. Peranan agama dan keluarga sangat penting mengantisipasi perilaku remaja tersebut," katanya.

Menurut dia, ada beberapa faktor yang mendorong anak remaja usia sekolah SMP dan SM melakukan hubungan seks di luar nikah. Faktor-faktor tersebut di antaranya pengaruh liberalisme atau pergaulan hidup bebas, faktor lingkungan dan keluarga yang mendukung ke arah perilaku tersebut serta pengaruh perkembangan media massa.

Oleh karena itu, dengan adanya perilaku seperti itu, para remaja tersebut sangat rentan terhadap resiko kesehatan seperti penularan penyakit HIV/AIDS, penggunaan narkoba serta penyakit lainnya.

Sebab, data Departemen Kesehatan hingga September 2008, dari 15.210 penderita AIDS atau orang yang hidup dengan HIV/AIDS di Indonesia, 54 persen di antaranya adalah remaja.

Sehingga, kata Masri, keberadaan Pusat Informasi dan Konseling Kesehatan Reproduksi Remaja (PIK KRR) akan sangat berarti untuk menjawab permasalahan kesehatan reproduksi remaja. Selain itu, juga sebagai sarana remaja untuk berkonsultasi mengembangkan kemauan dan kemampuan positifnya.

Sementara itu, Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah mengatakan, laporan dari BKKBN Provinsi Banten, jumlah Pusat Informasi Konseling Kesehatan Reproduksi Remaja (PIK-KRR) di seluruh wilayah Banten sudah ada sebanyak 25 titik.

"Setiap remaja di Banten yang ingin berkonsultasi, bisa melalui SMS ke pusat konseling yang ada di 125 titik ke nomor yang telah disediakan," katanya. Sayangnya tak dijelaskan, diapa lembaga survey yang bersangkutan. [ant/www.hidayatullah.com]

Indra mengatakan...

Profesor UIN Dukung Homoseksual


Seorang profesor UIN Jakarta tiba-tiba menghalalkan perilaku homoseksual. Cermin cara berpikir kacau.

Harian The Jakarta Post, edisi Jumat (28/3) pada halaman pertama melansir berita berjudul “Islam Recognizes Homosexuality” (Islam Mengakui Homoseksualitas). Koran berbahasa Inggris yang terbit di dalam negeri ini menulis, “Homosexuals and homosexuality are natural and created by God, thus permissible within Islam.” (Homoseksual dan homoseksualitas adalah alami dan diciptakan oleh Tuhan, karenanya dihalalkan dalam Islam)


Tulisan tajam yang menabrak rambu-rambu Islam ini adalah pendapat guru besar UIN Jakarta Prof Dr Siti Musdah Mulia. The Jakarta Post mengutip pandangan dedengkot pemikir liberal ini dari sebuah diskusi yang diadakan “Arus Pelangi” di Jakarta, Kamis (27/3). LSM yang beralamat di Jl Tebet Dalam IV No 3 Jakarta Selatan ini merupakan tempat mangkalnya kaum lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT). Dalam AD/ART-nya disebutkan, keanggotaan Arus Pelangi adalah individu yang memiliki orientasi seksual LGBT atau heteroseksual yang komit memperjuangkan hak-hak dasar LGBT.

Sambil mengutip al Qur’an surat al-Hujurat ayat 3, Musdah melanjutkan, ”There is no difference between lesbians and nonlesbians. In the eyes of God, people are valued based on their piety.” (Tidak ada perbedaan antara lesbian dengan non-lesbian. Dalam pandangan Tuhan, manusia dihargai hanya berdasarkan ketaatannya). Aktivis Indonesia Conference of Religions and Peace (ICRP) ini menegaskan, intisari ajaran Islam adalah memanusiakan manusia dan menghormati kedaulatannya.

“Homoseksualitas berasal dari Tuhan, karenanya harus diakui sebagai hal yang alamiah,” kata Musdah.

Poskan Komentar

Awards

Detik.Com Awards

Statistik

Sepatah Kata

WartaMedika.Com adalah situs kesehatan yang dibuat karena adanya kesadaran bahwa salah satu hal penting untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat adalah tersedianya informasi kesehatan yang memadai.

Kebijakan Copy/Paste

Seluruh artikel di WartaMedika.Com dapat dicetak, diperbanyak, dimodifikasi dan didistribusikan secara bebas, dengan tetap mencantumkan sumber artikel (yaitu, WartaMedika.Com) dan URL lengkap artikel tersebut.

Partisipasi

Anda ingin turut serta dalam menyebarkan informasi kesehatan yang ada di WartaMedika.Com, silakan pasang link di bawah ini di website Anda.